Tinjauan Berita hari ini menghadirkan pandangan
Profesor Jota Kanda dari Departemen Ilmu Kelautan
Universitas Sains dan Teknologi Kelautan Tokyo
mengenai dampak zat-zat radioaktif terhadap
kehidupan laut. Menurut Kanda, banyak orang khawatir dengan berita-
berita ditemukannya kadar yodium radioaktif dengan
tingkat ribuan kali lebih tinggi dari standar yang
ditetapkan pemerintah Jepang, pada air laut di dekat
saluran pembuangan PLTN Fukushima Daiichi. Akan
tetapi sebagian besar air yang ada di permukaan bumi berada di lautan dan tingkat radiasi akan dengan cepat
melemah oleh arus dan penyebaran air. Karena itu
Kanda yakin, kecuali air dari lokasi-lokasi yang sangat
dekat dengan PLTN itu, tidak ada perubahan besar
dalam tingkat radiasi pada air laut. Masyarakat Jepang mengkonsumsi banyak ikan, dan
sejak kecelakaan nuklir Chernobyl, masyarakat Jepang
selama ini peka mengenai zat-zat radioaktif di air laut
dan ikan. Sudah sejak lama Jepang melakukan
pemantauan sendiri terhadap tingkat radiasi. Kanda
yakin, Jepang memiliki data penting secara global. Zat-zat radioaktif mencemari air laut akibat kecelakaan
Chernobyl dan uji-uji nuklir di angkasa pada tahun
1950-an dan 1960-an. Jepang memiliki data mengenai
zat-zat radioaktif, seperti kadar cesium, pada air laut di
seluruh dunia. Isotop-isotop radioaktif memiliki
kepekaan tinggi dan mudah diukur. Karenanya perilaku isotop-isotop juga dikenali dengan baik. Dengan melihat data semacam itu, hasil pengukuran
menunjukkan tingkat pencemaran di laut di sekitar
PLTN tersebut, tidak sebesar tingkat pencemaran zat-
zat radioaktif seperti yang ditimbulkan dalam
kecelakaan Chernobyl, meskipun keadaan sekarang ini
berlanjut hingga beberapa bulan. Setelah terjadinya kecelakaan nuklir Chernobyl, ikan di laut tidak
tercemar, sehingga menurut Kanda, kali ini juga kita
tidak perlu mengkhawatirkan soal pencemaran itu.
Akan tetapi air yang tercemar zat radioaktif masih terus
keluar dari PLTN Fukushima Daiichi ke laut, sehingga
rumput-rumput laut yang dibudidayakan atau tumbuh di dekat saluran pembuangan PLTN tersebut akan
terpengaruh. Demikian Tinjauan Berita yang mengangkat pandangan
Profesor Jota Kanda dari Departemen Ilmu Kelautan
Universitas Sains dan Teknologi Kelautan Tokyo
mengenai dampak zat-zat radioaktif terhadap
kehidupan laut.
Sumber : NHK WORLD INDONESIA
Berita tentang Jepang
Entri Populer
-
Tinjauan Berita hari ini menghadirkan pandangan Profesor Jota Kanda dari Departemen Ilmu Kelautan Universitas Sains dan Teknologi Kelautan T...
-
Plaster Gigi Pertama di Dunia (Kiri) Lembaran plaster untuk gigi (Kanan) Alat bantu gigi 3 dimensi Gambar: Universitas Kinki Hydroxylapatite...
-
Badan Tenaga Atom Internasional IAEA mengatakan tingkat radiasi yang ditemukan di sebuah desa yang berjarak 40 kilometer dari PLTN Fukushima...
Kamis, 31 Maret 2011
Radiasi Tinggi Ditemukan di Luar Radius 30 km
Badan Tenaga Atom Internasional IAEA mengatakan
tingkat radiasi yang ditemukan di sebuah desa yang
berjarak 40 kilometer dari PLTN Fukushima Daiichi yang
bermasalah yaitu dua kali lebih tinggi dari standar
untuk evakuasi. Lokasi ini berada di luar zona evakuasi yang berada
dalam radius 20 kilometer, dan juga di luar zona
waspada yang beradius 20 sampai 30 kilometer. Warga
yang tinggal dalam zona waspada ini, dianjurkan oleh
pemerintah agar mengungsi. IAEA melaporkan penemuannya tersebut dalam sebuah
pertemuan anggotanya di Wina pada hari Rabu. IAEA
mengatakan para pakarnya mengukur tingkat yodium
131 dan cesium 137 pada tanah di sekitar PLTN
Fukushima Daiichi sejak tanggal 18 hingga 26 Maret. Pihaknya mengatakan pengukuran di desa Iitate, yang
berjarak 40 kilometer di sebelah barat laut PLTN
tersebut, menunjukkan kadar zat-zat radioaktif itu dua
kali lebih tinggi dari kriteria operasi IAEA untuk
evakuasi. IAEA pun menganjurkan agar Jepang lebih
seksama dalam menilai situasi tersebut. Hari ini di Tokyo, Menteri Sekretaris Kabinet Jepang
Yukio Edano berbicara kepada wartawan bahwa
laporan mengenai tingkat radiasi di Iitate tidak memiliki
dampak langsung terhadap kesehatan manusia. Namun
menurutnya, tingkat radiasi tersebut dapat berbahaya
jika mengalami paparan dalam periode waktu yang lama. Ia mengatakan pemerintah akan menilai dengan
lebih seksama mengenai dampak jangka panjang serta
langkah yang tepat untuk menanganinya.
Sumber : NHK WORLD INDONESIA
tingkat radiasi yang ditemukan di sebuah desa yang
berjarak 40 kilometer dari PLTN Fukushima Daiichi yang
bermasalah yaitu dua kali lebih tinggi dari standar
untuk evakuasi. Lokasi ini berada di luar zona evakuasi yang berada
dalam radius 20 kilometer, dan juga di luar zona
waspada yang beradius 20 sampai 30 kilometer. Warga
yang tinggal dalam zona waspada ini, dianjurkan oleh
pemerintah agar mengungsi. IAEA melaporkan penemuannya tersebut dalam sebuah
pertemuan anggotanya di Wina pada hari Rabu. IAEA
mengatakan para pakarnya mengukur tingkat yodium
131 dan cesium 137 pada tanah di sekitar PLTN
Fukushima Daiichi sejak tanggal 18 hingga 26 Maret. Pihaknya mengatakan pengukuran di desa Iitate, yang
berjarak 40 kilometer di sebelah barat laut PLTN
tersebut, menunjukkan kadar zat-zat radioaktif itu dua
kali lebih tinggi dari kriteria operasi IAEA untuk
evakuasi. IAEA pun menganjurkan agar Jepang lebih
seksama dalam menilai situasi tersebut. Hari ini di Tokyo, Menteri Sekretaris Kabinet Jepang
Yukio Edano berbicara kepada wartawan bahwa
laporan mengenai tingkat radiasi di Iitate tidak memiliki
dampak langsung terhadap kesehatan manusia. Namun
menurutnya, tingkat radiasi tersebut dapat berbahaya
jika mengalami paparan dalam periode waktu yang lama. Ia mengatakan pemerintah akan menilai dengan
lebih seksama mengenai dampak jangka panjang serta
langkah yang tepat untuk menanganinya.
Sumber : NHK WORLD INDONESIA
Pelester Gigi Pertama di Dunia
Plaster Gigi Pertama di Dunia (Kiri) Lembaran plaster untuk gigi
(Kanan) Alat bantu gigi 3 dimensi
Gambar: Universitas Kinki Hydroxylapatite adalah mineral utama yang terdapat
pada gigi. Dengan menggunakan mineral tersebut,
Universitas Kinki telah mengembangkan sebuah
lembaran super tipis yang dirancang untuk membantu
mengobati gigi berlubang dan gigi yang sangat sensitif.
Lembaran ini dibuat dari jenis mineral yang sama yang membentuk gigi, jadi akan bekerja secara alami dan
menempel dengan sendirinya di gigi hanya dengan
bantuan air liur.
Sumber : NHK WORLD INDONESIA
(Kanan) Alat bantu gigi 3 dimensi
Gambar: Universitas Kinki Hydroxylapatite adalah mineral utama yang terdapat
pada gigi. Dengan menggunakan mineral tersebut,
Universitas Kinki telah mengembangkan sebuah
lembaran super tipis yang dirancang untuk membantu
mengobati gigi berlubang dan gigi yang sangat sensitif.
Lembaran ini dibuat dari jenis mineral yang sama yang membentuk gigi, jadi akan bekerja secara alami dan
menempel dengan sendirinya di gigi hanya dengan
bantuan air liur.
Sumber : NHK WORLD INDONESIA
Langganan:
Postingan (Atom)